Gerakan Pemuda Pencinta Budaya Mandar Mengadakan Dialog Kebangsaan

178

PORTALMAKASSAR.com – Gerakan Pemuda Pencinta Budaya Mandar (GPPM) desa Nepo mengadakan Dialog Kebangsaan, Rabu (31-Januari-2018).

Kegiatan yang berlangsung di Kantor Desa Nepo Kecamatan Wonomulyo ini, mengangkat tema “Wawasan kebangsaan dan bahaya narkoba, upaya menyelamatkan generasi penerus bangsa”. Dengan menghadirkan dua narasumber yakni dari Kapolres Wonomulyo atas nama Burhanuddin Ahmad, SE dan Saddan Husein,S.Kom.

Kegiatan ini juga dihadiri oleh Sekdes Nepo, Perwakilan Pemerintah Kecamatan Wonomulyo, dan beberapa Organisasi Kepemudaan seperti Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), Komite Nasional Pemuda Indonesia, Forum Kajian Anak Luyo, Serikat Pemuda Desa galeso, Jaringan Advokasi Pencinta Budaya Nusantara dan juga masyarakat setempat.

Nuryadi,SH yang sebagai ketua panitia, menggebu-gebu dalam penyampaiannya, ia mengatakan bahwa “NKRI itu sudah Final, seperti layaknya membangun sebuah rumah di Mandar, yang dimana pembuatannya itu diawali dengan baca-baca (Red:Selametan) dan membaca ayat Barzanji di posi’ arriang (Red: Jantung Rumah) sebelum membangun sebuah rumah. Begitu pula Indonesia ini, yang telah di doakan para Ulama dan dibangun atas tetes darah para Ulama, Santri, Tentara dan para pejuang. Lalu kemudian ada sekelompok golongan yang membuat sebuah gerakan yang menggegoti bangunan itu, yang mengatasnamakan Khilafah, tentunya sebagai pemilik rumah, kita pasti melawan, hanya satu kata untuk itu LAWAN!”

Kegiatan ini mengangkat tema Kebangsaan dan juga Narkoba, tidak lain karena pergeseran paradigma masyarakat akan nilai-nilai kebangsaan dan bahaya narkoba yang merosot, dalam penyampaiannya Narasumber pertama yakni Burhanuddin Ahmad selaku perwakilan Kapolres Wonomulyo, yang juga membidangi permasalahan Narkotika, memaparkan bahwa ada dua daerah di Polewali Mandar yang menjadi daerah yang paling marak transaksi narkobanya bahkan Se-Sulawesi Barat yaitu Wonomulyo dan Tinambung, ia melaporkan data Kapolres pada tahun 2016 di wilayah Wonomulyo sendiri tercatat ada 106 pemakai dan sekitar 39 pengedar, data ini meningkat hampir 100% di tahun 2017, menjadi 200 pemakai. Dan mirisnya pemakai narkoba di wilayah ini bukan Cuma laki-laki namun juga perempuan.

“Ada yang masih SMP kelas 3 dan SMA kelas 2, dan saat ditanya alasannya, ia hanya coba-coba” tuturnya.

“Susahnya kami memberantas hal ini dikarenakan jumlah personil kami yang sedikit dalam Reserse Narkoba dan wilayah yang harus di awasi dan ditindak terlampau luas, dan juga oleh oknum bandar sendiri yang menjadikan anak kecil sebagai kurirnya membuat kami merasa kesulitan, maka dari itu kami mengajak masyarakat untuk membantu kami memberantas narkotika, jika ada oknum, foto barang buktinya lalu tangkap pelakunya, kemudian laporkan ke pemerintah setempat, melalui pemerintah setempat hubungi kami, kami akan menindaklanjutinya”sambungnya.

Setelah ia mengakhiri materinya, narasumber pertama ini, izin untuk pergi menghadiri acara yang tak bisa ia lewatkan di Silopo, ia meminta maaf kepada Panitia dan hadirin untuk hal itu.

Acarapun dilanjutkan oleh pemaparan Narasumber ke-dua yakni Saddan Husain,S.Kom yang menjabat sebagai Koordinator Wilayah Barisan Ansor Serbaguna (BANSER) Sulawesi Barat. Ia yang memfokuskan materinya pada titik Kebangsaan membuat audiens yang hadir terdiam dan terfokus kepadanya.

“Pergeseran paradigm pemikiran pemuda/I saat ini telah terjadi, kita bandingkan saja generasi tahun 90-an dengan generasi yang dinamakan generasi zaman now ini, generasi sebelumnya itu malu menggunakan alat eletronik seperti hape karena ia malu tidak bisa memakainya, sedangkan sekarang, orang malu kalau tidak membeli alat eletronik seperti Android karena dianggap kudet nanti. Ini tentunya merupakan sebuah pergeseran.” tuturnya

“lalu kemudian, Android itu sendiri, yang membuat sebuah dunia yang baru yakni dunia maya, membuat dunia nyata itu tersingkirkan, efek negative perkembangan teknologi sendiri salah satunya ialah terkikisnya budaya dan tradisi yang ada, sebenarnya zaman tidak harus di ikuti, namun kita harus mengikuti sebuah hal yang sifatnya prinsipil, seperti budaya dan tradisi itu sendiri.” Sambungnya.

Setelah narasumber memaparkan materinya, selanjutnya sesi Tanya jawabpun berlangsung, seorang pena-nya yang bernama Rahman atau lebih dikenal masyarakat dengan sebutan Nakata melontarkan pertanyaan mengenai cara memberikan pemahaman kepada masyarakat dalam pentingnya wawasan kebangsaan dan juga keagamaan.

Lalu Saddan sebagai narasumber dalam forum tersebut menjawabnya, bahwa banyak yang harus diperhatikan dalam men-sosialisasikan pemahaman kebudayaan dan juga keagamaan itu sendiri, mulai dari Pemerintah daerahnya yang memberikan support, organisasi kepemudaan, dan juga keluarga, hemat saya ialah harus menumbuhkan kecintaan kepada masjid, dikarenakan masjid atau tempat ibadah adalah tempat sentral di desa, anak-anak yang ada didesa sekarang ini sudah malas ke masjid bahkan malas untuk mengaji di masjid, nah untuk itu, peran pemuda disini ialah sebagai medium untuk mengajak anak-anak tersebut kembali mencintai masjid.

Dialog yang berlangsung cukup menarik antara penanya dan narasumber yang berlangsung, terjadi brainstrorming diantara keduanya, lalu ditemukan kesimpulan bahwa, peran pemuda bagi keberlangsungan generasi Indonesia sangatlah penting, maka untuk itu pemuda haruslah diberi ruang oleh pemerintah setempat dan juga masyarakat

Dialog Kebangsaan ini pun berakhir, dan disela-sela berakhirnya kegiatan ini, pewarta bertanya kepada Abd.Rauf selaku Staf Kecamatan Wonomulyo mengenai kegiatan yang diselenggarakan oleh organisasi pemuda desa nepo ini, ia menuturkan bahwa ia sangat men-support kegiatan kepemudaan, dan menginginkan tiap desa bisa melakukan kegiatan yang positif seperti ini (Mwh).

Laporan: Muh.Wahyu Hidayat, Persma Radikal Unasman

MASUKKAN KOMENTAR ANDA