Kehilangan Ulama Kharismatik, Amran Mahmud Melayat ke Rumah Duka Gurutta Rafi Yunus

124
Amran Mahmud
Dr H. Amran Mahmud menyempatkan waktunya untuk melayat ke rumah duka Anregurutta Prof Dr Rafii Yunus Martan, di Kompleks Skarda, Makassar, Senin (29/1/2018) malam

PORTALMAKASSAR.com – Di tengah kesibukannya sebagai kandidat Bupati , Dr H. Amran Mahmud menyempatkan waktunya untuk melayat ke rumah duka Anregurutta Prof Dr Rafii Yunus Martan, di Kompleks Skarda, Makassar, Senin (29/1/2018) malam.

Pasangan Amran SE di Pilkada Wajo ini, nampak khusyuk mendoakan gurutta yang terbaring kaku di kediaman pribadinya setelah menghembuskan nafas terakhir di rumah sakit.

Selama sekitar dua jam, Amran Mahmud yang memang dikenal punya hubungan dekat dengan gurutta, menyempatkan waktu ke Makassar setelah mendapat kabar jika Pimpinan Pondok Pesantren As’adiyah ini dilarikan ke rumah sakit.

“Tadi saya mendapat kabar kalau Gurutta masuk ke rumah sakit. Setelah tiba (di Makassar), Gurutta sudah berpulang ke rahmatullah,” kata Amran saat ditemui di rumah duka.

Awalnya, Amran Mahmud juga ingin mengantar Gurutta dari Makassar ke Sengkang. Namun, sesuai kesepakatan keluarga almarhum, Gurutta akan dikebumikan di Makassar.

“Saya tetap tinggal dulu di Makassar untuk mengantar Gurutta ke pemakaman di Makassar,” tambah Amran Mahmud yang saat menyusun disertasi gelar doktornya, Gurutta termasuk salah satu promotornya.

Berdasarkan pantauan, di rumah duka gurutta, Amran Mahmud nampak bercengkrama dengan sejumlah keluarga dan kolega almarhum. Seperti sejumlah guru besar asal UIN Alauddin Makassar, serta sejumlah keluarga besar As’adiyah.

Di tempat tersebut, Amran yang juga tercatat sebagai salah satu dosen di As’adiyah, ikut berbagi pengalaman menarik tentang Gurutta yang dikenal sebagai ulama kharismatik Sulsel.

Sebelumnya, Amran Mahmud menyampaikan duka cita mendalamnya atas berpulangnya ke Rahmatullah Gurutta Rafii Yunus. Di matanya, Gurutta adalah ulama kharismatik yang dimiliki Sulsel. Selain kesederhanaan yang dimiliki, juga tekadnya membumikan syiar Islam selalu menggebu-gebu. Itu sebabnya pula, Gurutta memimpin As’adiyah selama tiga periode.

“Kepergian Gurutta meninggalkan duka mendalam. Kita kehilangan lagi ulama besar yang selama ini menjadi panutan yang tanpa pamrih mewakafkan hidupnya untuk kemaslahatan ummat dan bangsa,” terang Amran Mahmud.

Menurut dia, kepergian Gurutta merupakan duka bagi warga Wajo. Apalagi selama ini, Gurutta sangat aktif mengurus lembaga pendidikan keagamaan, sekaligus berperan besar melahirkan berbagai tokoh dan pemuka agama di Sulsel.

“Apa yang diwariskan Gurutta harus terus kita jaga bersama. Atas nama pribadi dan keluarga, kami sangat merasakan duka atas berpulangnya Gurutta,” tambah Amran Mahmud yang juga Dosen di Perguruan Tinggi As’adiyah.

Di mata Amran Mahmud, Gurutta adalah ulama yang sangat santun, dan punya kedalaman pengetahuan yang sangat kaya. Begitu pun tak membeda-bedakan orang atau santri dalam berbagi pengetahuan.

Amran cukup beruntung berulangkali mendengar dan mendapat syiar keagamaan langsung dari Gurutta terutama saat almarhum masih sehat, dan menghabiskan banyak waktunya di Wajo.

Bukan hanya itu, Amran juga berterimakasih kepada Gurutta, karena di saat menyusun disertasi gelar doktornya, Gurutta adalah salah satu promotornya.

“Gurutta banyak memberi masukan atas disertasi yang saya susun saat itu. Sekali lagi, sungguh saya kehilangan atas kepergian Gurutta,” pungkas Amran. (red/tim)

MASUKKAN KOMENTAR ANDA