“Meneruskan Perjuangan Kaum Intelektual Alasan Saya Terjun ke Dunia Politik”

85
Dr. (c). Awaluddin S.Pd, SE, MM

PORTALMAKASSAR.COM – Di suatu tempat yang sepi nan eksotis di ujung pelosok bagian timur Bulukumba, tepatnya di Pantai Mandala Ria yang penuh dengan sejarah seorang sahabat saya berkata “kita harus terus berkarya dan berbuat jangan nunggu uang/finansial untuk berbuat, uang jangan jadi masalah, tapi bagaimana masalah bisa jadi uang”. Yap… ungkapan itu ternyata benar adanya.

 

Akan tetapi, tentu dilihat dari cara pandang yang positif, meski dalam kehidupan sehari-hari memang tidak sedikit kita jumpai yang mencari uang dari mencari-cari masalah baik dalam pandangan yang positif maupun negatif.

iklan

Kalau kebanyakan orang pusing menghadapi masalah, dan sering bergumam mengapa ya masalah ini datang bertubi-tubi silih berganti?, Maka, sebagian kalangan jika tidak ada masalah justru tidak ‘hidup’.

Akademisi adalah satu di antaranya, jika tidak ada masalah, tidak akan ada yang diteliti. Dengan demikian, juga tidak ada yang bisa dijadikan karya (tulisan), makalah, jurnal, skripsi, tesis, disertasi, buku dan lain sebagainya.

Sama halnya juga dengan politik, masalah atau fenomena juga menjadi satu di antara pertanyaan kunci yang ianya juga menjadi entri point dalam menyusun undang-undang, masyarakat pada umumnya bertanya apa yang akan dlakukan seorang akademisi terjun kedunia politik…?.

Pertanyaan sederhana yang harus diungkap dan dielaborasi secara mendalam. Ruang publik sarat dengan pesan-pesan yang bukan saja tak beraturan, tapi juga sarat kepentingan yang mengoyak hati siapa pun yang memiliki keyakinan akan pentingnya menyebarluaskan kebaikan di mana pun dan di setiap kesempatan. Public virtue (kebajikan publik) mengalami kelangkaan di tengah kepadatan pesan-pesan yang menyesatkan.

Pada situasi seperti inilah, dibutuhkan suara-suara lain, yang terdengar jernih di telinga dan menyejukkan di tengah riuh rendah kerumunan yang berteriak tak beraturan, tanpa kontrol, tanpa ada yang mengarahkan atau membimbing ke jalan lurus lagi terang.

Suara-suara itulah yang keluar dari orang-orang yang terdidik dan mampu mengayomi, melihat setiap persoalan dalam perspektif yang kaya dan beragam. Orang-orang yang bisa membimbing dan bukan yang membingungkan lantaran kebenaran yang disampaikan sudah menyublim dalam kepentingan kekuasaan.

Pesan-pesan akademik yang mengayomi menjadi kebutuhan yang mendesak dan seyogianya menjadi tugas siapa pun tanpa kecuali, karena ketersediaan lingkungan yang damai, ramah, dan terbuka pada dasarnya merupakan kebutuhan semua orang.

Untuk itu, maka merumuskan dan menjawab (menyelesaikan) masalah adalah menjadi suatu tradisi yang harus dimiliki oleh masyarakat akademik dan politisi. Karenanya dalam membantu merumuskan suatu regulasi dibuatlah naskah akademik sebagaimana diamanahkan dalam UU Nomor 12 tahun 2011 tentang Pembentukan Perundang-Undangan dan Prosedur Penyusunan Produk Hukum Daerah.

Profesi akademisi bukanlah profesi steril sehingga harus jauh dari lingkaran kekuasaan. Indonesia dan khususnya justru membutuhkan orang-orang terdidik untuk turun tangan mengurusi sebagian masyarakat yang tidak tersentuh pendidikan.

Jangan lupakan, bendera kita berdiri karena kaum intelektual berjuang melawan kolonialisme. Apa yang terjadi, bendera ini tetap naik dan kita harus meneruskan tradisi ini,” inilah salah satu alasan mengapa saya harus terjun ke dunia politik melalui partai NasDem. Gerakan restorasi

Pengirim : Dr. (c). Awaluddin S.Pd, SE, MM

MASUKKAN KOMENTAR ANDA