Instalasi Balai Besar Karantina Tumbuhan Gagalkan Upaya pengiriman tanaman hias anggrek dan kantong semar yang dilindungi
Instalasi Balai Besar Karantina Tumbuhan Gagalkan Upaya pengiriman tanaman hias anggrek dan kantong semar yang dilindungi

PORTALMAKASSAR.com – Sepandai-pandai tupai melompat, akhirnya jatuh juga. Andrias, warga Kabupaten Mamasa, di Sulawesi Barat ditetapkan sebagai tersangka kasus pengiriman tanaman hias anggrek dan kantong semar yang dilindungi oleh penyidik
Balai Gakkum Wilayah Sulawesi.

Dihadapan penyidik, warga Mamasa ini mengaku aksinya telah yang kesekian kalinya mengirim tanaman hias yang dilindungi melalui pintu bandara internasional Sultan Hasanuddin, Makassar.

Hanya saja, ia lagi bernasib apes. Pengiriman berikutnya, pada Kamis 8 Februari 2018. Aksinya terendus oleh petugas Instalasi Balai Besar Karantina Tumbuhan yang tidak mengijinkan terbang 26 paket tanaman hias yang berisi 27 jenis tanaman anggrek yang dilindungi. Berikut 10 tanaman kantong semar yang akan dikirim ke sejumlah wilayah seperti Jakarta, Bogor, Semarang, Klaten, Malang dan Yogyakarta.

“Usai gelar perkara Jumat 9 Maret 2018, akhirnya penyidik kami di
Balai Gakkum KLHK Wilayah Sulawesi menetapkan Andrias sebagai tersangka atas pengiriman puluhan paket tanaman hias yang dilindungi,”kata Muhammad Nur, Kepala Balai Gakkum KLHK Wilayah Sulawesi, Selasa 13 Maret 2018.

Tersangka Andrias, menurut Muh Nur terancam pidana penjara paling lama 5 tahun, dan denda paling banyak Rp100.000.000. Karena melanggar Pasal 40 ayat (2) dan (4) jo Pasal 21 huruf a dan b Undang- Undang No 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya dan Pasal 63 Ayat(1) dan ayat (2) jo Pasal 42 Ayat (1) PP No 8 Tahun 1999 tentang Pemanfaatan Tumbuhan dan Satwa Liar

“Untuk sementara barang bukti, dititiprawatkan di Green Hause Balai Penelitian dan Pengembangan KLHK Makassar. Seelebihnya 21 jenis anggrek dititiprawatkan di Rumah Anggrek Resort Malino Seksi Konservasi Wil 4 di Kabupaten Gowa,” jelas Muh Nur.

Kayu Merbau asal Samarinda Diamankan Menuju Kima sebanyak 33.300 meter kubik kayu jenis Merbau (Bayam) ilegal asal Samarinda, Kalimantan Timur berhasil diamankan dari operasi tangkap tangan (OTT) bersama satu unit truk Mitsubishi Fuso,  di Jalan Kapasa Raya menuju Kawasan Industri Makassar (Kima), Sulawesi Selatan.

“OTT itu bermula dari informasi intelejen kami di sekitar pelabuhan Makassar yang melihat truk Mitsubishi Fuso bermuatan kayu keluar pada malam hari, tepatnya Senin malam, pukul 20.30 WITA. Setelah anggota kami mengikuti dan mencekalnya di tengah jalan menuju Kima. Teraangka Ar tidak mampu memperlihatkan dokumen resmi hasil hutan yang diangkutnya dari pelabuhan Makassar,”kata Muhammad Nur.

Alhasil dari pengembangan penyidikan, lanjut Muh Nur, diketahui HB adalah pemilik kayu bayam asal Samarinda yang sengaja dikirim melalui pelabuhan Makassar.

“Untuk tersangka Ar terancam pidana penjara minimal 1 tahun dan maksimal 5 tahun. Berikut denda minimal Rp500.000.000 dan maksimal Rp2,5 miliar. Karena terbukti dengan sengaja membawa kayu merbau yang tidak dilengkapi dengan dokumen resmi hasil hutan yang melanggar pasal 83 ayat (1) huruf b juncto pasal 12 huruf e dan/atau ayat (4) huruf b juncto pasal 12 huruf e Undang-Undang 18 Tahun 2013 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Perusakan Hutan,” Muh Nur.

Sementara itu, di Kolaka Timur, Sulawesi Tenggara. Tim operasi Sporc Brigade Anoa Balai Gakkum KLHK Wilayah Sulawesi kembali mengamankan iring-iringan 7 unit truck bermuatan kayu illegall tanpa dokumen yang sah .

Dalam operasi tersebut, tiga pelaku yg diduga pemilik kayu berhasil diamankan oleh penyidik KLHK yakni Sy alias HA dan Sa alias HA dan HT.

“Saat ini barang bukti 7 truk dan muatan kayu sudah diamankan. Dan berdasarkan keterangan sopir-sopir, kayu itu hendak dimasukkan kedalam industri,” jelas Muh Nur.

(red)

loading...